Pendakian Gunung Slamet 2008 ; Satu Gunung Dua Pendakian

26 11 2014

slamet 1
Meski perjalanan ini sudah cukup lama, tetapi kisah di balik perjalanan ini masih sangat melekat dalam ingatan saya. Perjalanan yang saya lakukan sekitar 6 tahun yang lalu di Gunung Slamet, Jawa Tengah bersama 9 orang kawan lainnya dengan mengendarai motor dari kota tempat tinggal saya yaitu Demak, Jawa Tengah. Kisah unik dari perjalanan ini bukan karena sensasi mengendarai motor jarak jauh atau sensasi pendakian Gunung Slamet semata, tetapi ada bagian menarik dan tentu saja tidak akan pernah terlupakan, yaitu kami tersesat di Gunung Slamet dan harus mengakhiri pendakian dengan gagal mencapai puncak serta memulai lagi pendakian melalui jalur yang lain dan akhirnya bisa mencapai puncak. Sungguh luar biasa lelah dan tantangannya, baik tantangan secara fisik, perbekalan, manajemen perjalanan, hingga koordinasi tim. Berikut kisah lengkapnya.

Perencanaan
Ide pendakian ke Gunung Slamet berawal dari obrolan santai saya bersama beberapa teman di tempat nongkrong biasa. Kami mencari ide untuk refreshing dan mengisi waktu luang seusai perayaan Hari Besar Idul Fitri tahun 2008. Awal mula ada beberapa ide lokasi untuk pendakian, seperti Merapi, Sumbing, Lawu, dan Slamet. Akhirnya kami memutuskan untuk mendaki ke Gunung Slamet karena sebagian besar kawan belum pernah mendaki kesana (FYI : saya sudah pernah mendaki Gunung Slamet sebelumnya, yaitu 5 tahun sebelumnya dan belum pernah kesana lagi). Setelah kami semua sepakat untuk lokasi pendakian, kami selanjutnya membentuk tim dan membagi tugas awal untuk persiapan. Saya dipilih menjadi leader oleh tim. Dengan alasan saya sudah pernah ke Slamet.

Setelah usai membahas persiapan awal berupa rencana logistik, teknis perjalanan dari Demak ke basecamp hingga pembiayaan, kami lanjutkan membahas rencana teknis pendakian. Saya memutuskan menghindari pendakian malam, alasannya adalah saya sudah banyak lupa mengenai jalur pendakian karena sudah cukup lama pendakian terakhir saya di Gunung Slamet. Demi menghindari hal yang tidak diinginkan maka saya memutuskan pendakian hanya dilakukan pada pagi sampai sore hari saja, dan semua anggota tim setuju. Tetapi beberapa hari selanjutnya muncul tambahan satu orang peserta tim dan dia mengaku 3 bulan sebelumnya baru saja mendaki Gunung Slamet dan mengaku masih hafal jalur pendakian. Maka sesuai dengan kesepakatan dan pertimbangan waktu disepakatilah pendakian malam, dan saya langsung menyerahkan tugas leader ke anggota tim yang baru bergabung tersebut.

slamet 2

Memulai Perjalanan

Setelah semua persiapan selesai, tibalah di hari keberangkatan. Dengan mengendarai 5 kendaraan roda 2 kami 10 orang berangkat menuju ke basecamp Gunung Slamet di Bambangan, Purbalingga. Kami berangkat hari jumat siang usai sholat jumat. Menempuh jalur pantura dari Demak – Semarang – Kendal – Batang – Pekalongan – Pemalang – Randu Dongkal – Purbalingga – Bambangan. Perjalanan cukup lancar tanpa ada halangan berarti dan sekitar jam 19.00 kami sampai di basecamp Gunung Slamet. Setelah beristirahat sejenak, mengisi perut dan mengembalikan stamina, sekitar jam 22.00 kami memulai pendakian ke puncak Gunung Slamet.

Dari Masalah Air, Stamina, Hingga Tersesat

Saat awal pendakian kami masih baik-baik saja. Belum ada permasalahan berarti. Awal mula persoalan dimulai sejak memasuki area persawahan penduduk. Leader yang kami pilih ternyata lupa dengan jalur pendakiannya. Saya dan beberapa anggota tim lainnya sudah mulai menyadari ada yang kurang beres, tetapi kami masih mencoba untuk positif. Dan ternyata memang benar jalur yang kami pilih salah. Sekitar 1 jam pertama perjalanan, kami masih mengikuti leader. Tetapi selanjutnya kami semakin menyadari bahwa kami tersesat semakin jauh. Jalur yang kami lewati semakin tidak masuk akal, sama sekali tidak ada ciri bekas jalur pendakian umum. Dari sinilah mulai terjadi sedikit perselisihan. Mulai dari saling menyalahkan dikarenakan kesalahan mengambil jalur, hingga perselisihan siapa yang “mau” membawa beban berat berupa persediaan air. Bahkan saya sendiri pun sempat terkena “getah” disalahkan karena sudah pernah ke Slamet tapi masih nyasar. Pada akhirnya saya langsung ambil alih posisi leader dan memimpin koordinasi singkat mengenai pendakian ini. Saya mengambil keputusan tetap melanjutkan pendakian sambil mencari jalan tembusan menuju jalur pendakian utama. Keputusan tersebut saya ambil dengan pertimbangan, 1. Jalur masih terbuka dan belum masuk ke hutan yang rimbun dan rapat, 2. Kondisi stamina tim secara umum masih bagus, 3. Kondisi logistik masih cukup memadai dengan perhitungan makanan masih cukup untuk seluruh tim selama 3 hari, persediaan air masih banyak, peralatan masih lengkap, 4. Target perjalanan adalah jam 01.00, jika belum menemukan jalur utama harus berhenti untuk camp, atau sebelum jam 01.00 jika kondisi jalur semakin berbahaya harus berhenti dan camp.

Hingga sekitar jam 23.30 mulai ada keluhan dari salah satu anggota yang membawa persediaan air. Dia merasa keberatan jika harus membawa beban berat tersebut tanpa digantikan. Kembali terjadi lagi perselisihan kecil. Dia yang bertanggung jawab membawa air tersebut sudah menyatakan siap membawa beban terberat ke atas sejak sebelum perjalanan pendakian, hal itulah yang menjadi perselisihan tim. Akhirnya kami sepakati untuk membagi beban dan melanjutkan perjalanan. Sekitar jam 00.00 kami mulai memasuki area hutan. Semakin kami berjalan, kondisi hutan semakin rapat dan jalur semakin tertutup. Di beberapa tempat sepanjang jalur tersebut kami menemukan beberapa jebakan babi yang dipasang oleh warga. Kami harus ekstra hati-hati supaya tidak terkena jebakan tersebut. Hingga setengah jam perjalanan sejak memasuki area hutan, jalur yang kami tempuh semakin sulit dan harus melewati beberapa semak belukar. Hingga pada akhirnya jalur benar-benar terputus dan kami tidak bisa melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami memutuskan berhenti dan berfikir sejenak. Setelah beberapa saat, saya ambil inisiatif untuk survey ke sekitar tempat kami berhenti dalam radius sekitar 50 meter. Dan hasil survey saya memang saya sama sekali tidak menemukan tembusan jalur, memang jalur terputus. Akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan pendakian dan camp di lokasi kami berhenti tersebut hingga pagi dan kembali melakukan survey.

Sabtu pagi sekitar jam 07.00 kami semua sudah terbangun. Kondisi anggota tim secara keseluruhan baik, tanpa ada gangguan berarti, baik secara fisik maupun mental. Kami membuat sarapan pagi bersama dan saling bercanda. Sekitar jam 08.00 kami melakukan koordinasi untuk menentukan “nasib” perjalanan pendakian kali ini. Dan hasil koordinasi kami saat itu adalah kita sepakat untuk menghentikan pendakian dan kembali turun ke base camp. Pendakian Gunung Slamet via bambangan kami nyatakan pending alias gagal.

Melipir ke Guci : Perjalanan Belum Berakhir

Sesampainya di basecamp kami kembali berembug untuk menentukan kelanjutan dari perjalanan kali ini, karena kami masih punya waktu hingga hari minggu. Akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke tempat wisata Guci tegal untuk mandi di pemandian air panas dan camping di area Guci. Sekitar jam 16.00 kami sudah sampai di wilayah wisata Guci. Kami berhenti di sebuah masjid untuk melakukan ibadah dan sekedar istirahat. Sesampainya di masjid tersebut, saya melihat beberapa teman sudah tidak bersemangat lagi karena rasa kecewa gagal menggapai puncak Gunung Slamet. Melihat kondisi tersebut, saya berembug dengan salah satu anggota tim, merencanakan untuk mengisi waktu supaya tidak terasa hambar liburan kali ini. Dari beberapa penduduk setempat saya mendapatkan informasi bahwa Gunung Slamet bisa didaki melalui jalur Guci dan sangat beruntung penduduk tersebut memberi tahu tempat “nongkrong:” anak-anak setempat yang biasa mengantarkan pengunjung mendaki ke Puncak Slamet. Tanpa banyak pertimbangan, kami mendatangi base camp tersebut dan mencari informasi jalur pendakian ke Puncak Slamet via Guci. Dan hasilnya mereka bersedia mengantarkan kami untuk mendaki ke Puncak Slamet.

Pendakian Gunung Slamet Via Guci

Serasa mendapatkan suntikan semangat baru, semua anggota tim langsung merencanakan pendakian ulang menuju Puncak Slamet, kali ini melalui jalur Pendakian Guci. Kami menata ulang perbekalan dan semua perlengkapan. Dikarenakan sebagian besar persediaan logistik sudah digunakan di hari pertama pendakian via bambangan, maka kondisi logistik kami sangat terbatas, meski dinilai masih cukup. Sebelum mendaki kami dipersilahkan beristirahat dulu di rumah salah satu penduduk yang akan mengantarkan kami.

Sebelum memulai pendakian, kami sempatkan untuk koordinasi terlebih dahulu. Dan hasil koordinasi tersebut kami meminta salah satu pemandu kami menjadi leader pendakian dan seluruh tim kami mematuhi teknis yang diterapkan oleh sang pemandu. Hal itu kami lakukan karena kami sama sekali buta jalur pendakian Slamet via Guci dan ada orang yang lebih pengalaman dan lebih pantas menjadi leader.

Sekitar jam 21.00 kami memulai perjalanan menuju puncak. Dengan teknis terus berjalan hingga sampai di wilayah pelawangan (batas vegetasi), lantas membuat fly camp di sekitar situ. perjalanan cukup lancar tanpa halangan berarti, kecuali kondisi stamina kami yang sudah sedikit terkuras dari perjalanan pendakian sebelumnya. Secara umum jalur yang kami lewati cukup nyaman, tidak terlalu terjal dan kondisi hutan masih cukup rimbun dan asri. Kami melanjutkan pendakian dengan tetap penuh semangat.

Air Minum Kubangan Babi Hutan

Sekitar 6 jam kami sudah berjalan mendaki dan kondisi badan semakin drop. Berdasarkan informasi dari pemandu kami, tidak lama lagi kami akan sampai di pelawangan dan bisa istirahat, tetapi kami harus berhenti sejenak untuk mengisi persediaan air, pemandu kami mengetahui dimana lokasi mata air. Tidak lama sampailah kami di lokasi mata air. Kami membagi tugas untuk mengambil air secukupnya untuk persediaan perjalanan dan memasak. Dan kejadian tak terduga pun terjadi. Saat kami mengambil air, secara tidak sengaja kami ketemu dengan seekor babi hutan. Salah seorang yang paling depan langsung teriak dan lari, secara otomatis semua orang yang ada dibelakangnya pun ikut kaget dan sesegera mungkin mencari tempat aman. Dan secara tidak terduga, babi hutan tersebut juga kaget dan lari mencari tempat aman pula. Sebuah kejadian lucu yang pastinya tidak akan pernah terlupakan. Dan ternyata mata air tempat kami mengambil air adalah lokasi kubangan babi hutan.

Setelah mengambil air dan melanjutkan perjalanan, sampailah kami di lokasi camp yaitu di wilayah batas vegetasi. Kami segera mendirikan tenda dan beristirahat karena harus mengembalikan stamina untuk melakukan pendakian pagi harinya menuju ke puncak Slamet.

Puncak Slamet

Pagi-pagi sekali kami sudah terbangun. Memang kami menerapkan jadwal cukup ketat supaya pendakian bisa terlaksana dengan sukses dan bisa kembali pulang ke rumah tepat waktu. Setelah sarapan dan segala persiapan kami melanjutkan perjalanan menuju ke puncak Slamet. Perjalanan mendaki kali ini sedikit lebih berat karena harus melewati jalur bebatuan dan pasir. Setelah melalui perjuangan berjalan mendaki, sampailah kami di puncak Gunung Slamet. Satu hal menarik waktu itu, di puncak kami mendapatkan sinyal dan bisa menghubungi ke rumah. Menarik dan menyenangkan.

Setelah menikmati suasana di puncak dan mengambil beberapa foto dokumentasi kami melanjutkan perjalanan untuk turun dan kembali pulang kerumah. Perjalanan pendakian kali ini memang sangat unik dan tidak terlupakan. Ya memang setiap perjalanan itu selalu unik, tetapi perjalanan pendakian kali ini memang sangat berbeda, banyak pengalaman dan pelajaran yang kami dapatkan, terutama dalam hal kekompakan, koordinasi dan tentu saja manajemen perjalanan. Semoga di lain waktu kami tidak lagi mengulang kesalahan hingga bisa menyebabkan hal buruk seperti tersesat. Satu gunung, dua pendakian.. Gunung Slamet 2008.
slamet 3

slamet 4


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: