Gunung Cikuray Yang Kecil Cabe Rawit

31 03 2015
Gunung Cikuray

Gunung Cikuray

Gunung cikuray terletak di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung ini memiliki ketinggian 2821 Mdpl (meter di atas permukaan laut). Memang bukan tergolong gunung tinggi yang diminati para petualang. Karena memang kebanyakan petualang dan pendaki lebih memilih mendaki gunung dengan ketinggian 3000 Mdpl ke atas, alasannnya biasanya karena tantangan dan kebanggaan jika sanggup mendaki hingga di atas 3000 Mdpl. Meskipun memiliki ketinggian yang tidak terlalu tinggi, tetapi Gunung Cikuray banyak diminati karena memang memiliki tantangan lebih. Tantangan itu berupa terjalnya jalur pendakian, tingkat kesulitan medan dan lain-lain. Tidak sedikit para pendaki Cikuray yang akhirnya “menyerah” dan memutuskan berhenti untuk camp saja di tengah perjalanan dan tidak melanjutkan ke puncak karena sudah keletihan menghadapi medan pendakian gunung ini.. Cikuray memang kecil cabe rawit. Selain tantangan, Gunung Cikuray pun memiliki pemandangan yang tidak kalah dengan gunung-gunung lainnya, salah satu di antaranya adalah bayangan segitiga cikuray yang bisa di lihat dari puncak saat pagi hari.

view dari cikuray

view dari cikuray

Read the rest of this entry »





Mendaki Gunung Adalah Laku Tirakat

27 03 2015

Mendaki Gunung

“Lakune ahli tarikat, atapa pucuking wukir, mungguh Hyang Suksma parenga, amati sajroning urip, angenytaken ragi, suwung tan ana kadulu, mulane amartapa, mrih punjul samining janmi, wus mangkana kang kandheg aneng tarekat.”

Terjemahan :

Laku ahli tirakat adalah bertapa di puncak gunung, sekiranya Tuhan meridhoi mati di dalam hidup, menghanyutkan diri, kosong tidak ada yang terlihat, oleh karena itu bertapa agar melebihi sesamayan, demikianlah barang siapa yang terhenti pada tarikat.

Kutipan di atas merupakan kutipan dari salah satu karya sastra jawa kuno yaitu Suluk Sujinah yang mencitrakan bahwa laku tirakat (bertapa) di puncak gunung memang sudah dilakukan sejak jaman dulu oleh para pendahulu kita terutama di tanah jawa. Laku tirakat di tempat sepi seperti belantara, atau pun puncak gunung dilakukan bukan sekedar untuk meningkatan kesaktian kanuragan saja, tetapi lebih dalam untuk menemukan “jati diri”, menemukan potensi yang ada di dalam diri supaya bisa digunakan untuk kepentingan yang lebih luas. Berdasarkan sejarah mencatat bahwa para raja jawa sebelum memangku jabatan sebagai raja terlebih dahulu ditempa jiwa dan raganya, salah satunya dalam bentuk laku tirakat bertapa di tempat-tempat sepi, gunung, dan hutan. Hal itu dilakukan untuk menemukan dan meningkatkan potensi dalam dirinya terutama dalam hal jiwa kepemimpinan yang mencakup pemerintahan, memakmurkan rakyat yang dipimpinnya, mempertahankan kedaulatan, menjaga perdamaian, dan lain-lain. Para pandhita pun melakukan hal yang sama, mereka melakukan laku tirakat untuk menemukan kebijaksanaan-kebijaksanaan, ilmu-ilmu kehidupan, yang ajarannya masih tetap digunakan hingga saat ini. Jadi kesimpulannya kegiatan mendaki gunung, merambah belantara memang sudah dilakukan para pendahulu kita di jaman kuno dengan tujuan menempa diri, mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Alam, serta untuk meningkatkan kemampuan diri yang pada perwujudannya bisa memberikan manfaat kepada khalayak.

Read the rest of this entry »