Ucapanmu Kepribadianmu

13 06 2015

Ajining raga dumunung ana ing busana, Ajining diri dumunung ana ing lathi

Ungkapan di atas merupakan ungkapan dalam bahasa jawa yang sudah sangat familiar di jawa. Sebuah ungkapan sederhana namun memiliki makna filosofis yang sangat dalam dan tidak pernah lekang oleh waktu atau selalu sesuai dengan kondisi jaman apapun. Secara harafiah, ungkapan di atas memiliki arti : Nilai/harga dari fisik/raga tergantung dari busana/pakaian, Nilai/harga dari kepribadian tergantung pada ucapan. Harga diri seseorang ditunjukkan dari apa yang ditampilkan dan diucapkan. Dalam kehidupan sosial masyarakat, terutama di Indonesia, kedua unsur tersebut (penampilan dan ucapan) memiliki pengaruh yang kuat terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Misalnya dalam hal penampilan, sudah mengakar dan menjadi budaya di Indonesia bahwa penampilan akan menunjukkan kepribadian seseorang. Meski hal tersebut tidak selalu akan berlaku pada masa sekarang.
speak

Pada masa lalu, ketika budaya kita masih mengikuti budaya feodal, penampilan memiliki pengaruh dominan untuk menunjukkan harga diri dan kepribadian seseorang. Contohnya seseorang dari kalangan kelas bawah dengan pakaian seadanya pasti akan dinilai memiliki harga diri yang lebih rendah daripada seseorang yang memakai pakaian lebih bagus dan rapi. Meski sebenarnya isi yang ada di dalam diri kedua orang tersebut bertolak belakang. Tetapi seiring dengan terus berkembangnya kebudayaan, pemahaman seperti itu sedikit demi sedikit mulai terkikis dan orang sedikit demi sedikit mulai memahami bahwa apa yang ada di dalam diri seseorang memiliki nilai yang lebih dominan untuk menunjukkan harga diri seseorang. Dalam istilah modern muncul ungkapan “Jangan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya”. Sesuatu yang ada di dalam diri seseorang tersebut bisa berupa pemikiran dan kepribadian. Orang akan bisa menilai harga diri seseorang berdasarkan kepribadian dan pemikiran melalui ucapan-ucapan dan karya yang dihasilkan. Misalnya seseorang yang sering mengucapkan kebohongan, fitnah, dan sesuatu yang sebetulnya tidak berguna akan bisa dinilai bagaimana sebenarnya kepribadian dan harga dirinya, meskipun dia memiliki penampilan yang bagus dan rapi.

Ajining diri dumunung ana ing lathi. Harga diri seseorang tergantung dari ucapannya. Dalam kehidupan sosial masyarakat, percakapan merupakan salah satu faktor penunjang sebagai pembangun hubungan sosial tersebut. Percakapan dalam hal ini bisa menunjukkan apa yang ada di dalam pemikiran dan hati seseorang. Kita terbiasa untuk berinteraksi melaui kata-kata untuk menyampaikan informasi, menyampaikan perasaan dan menyampaikan kepedulian. Akan tetapi cara untuk berkomunikasi setiap orang bisa berbeda-beda. Orang yang telah matang secara pemikiran dan kepribadian akan terbiasa berucap dengan hati-hati dan akan selalu berusaha untuk tidak menyakiti lawan bicaranya. Untuk menyampaikan sesuatu mereka akan selalu memikirkan terlebih dahulu apa yang akan diucapkannya. Memikirkan bagaimana dampak dari ucapan tersebut terhadap orang yang mendengarnya. Berbeda dengan orang yang belum memiliki kedewasaan dalam berfikir, mereka seringkali mengatakan sesuatu hanya berdasarkan kepuasannya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain, bahkan dampaknya terhadap hubungan sosial. Sesuatu yang memiliki maksud yang sama, sama-sama dengan tujuan baik, tetapi disampaikan dengan cara yang berbeda maka akan menimpulkan perbedaan hasil pula. Baik reaksi lawan bicara maupun reaksi dari masyarakat. Oleh karena itu sebaiknya kita bisa senantiasa mengkaji terlebih dahulu apa yang kita pikirkan dan rasakan sebelum kita menyampaikan kepada  khalayak, bila perlu kita konsultasikan terlebih dahulu dengan orang yang telah memiliki kematangan dan kedewasaan dalam berfikir.

conversation

Segala sesuatu adalah pembelajaran dan proses. Ketika kita bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang ada disekitar kita maka kita akan bisa mendapatkan kedewasaan dalam berfikir dan bisa menyampaikan segala sesuatu dengan cara yang lebih baik. Berita baik akan sangat mudah diterima dengan baik apabila disampaikan dengan baik, berita baik akan menjadi tidak baik apabila disampaikan dengan cara yang tidak baik. Berita buruk akan bisa diterima dengan baik dan tabah apabila disampaikan dengan baik, sebaliknya berita buruk akan menjadi lebih buruk apabila disampaikan dengan tidak baik.

Interaksi di media sosial

Seiring dengan perkembangan jaman, maka berkembang pula kebudayaan. Dengan berkembangnya kebudayaan maka berkembang pula teknologi. Dewasa ini manusia tidak hanya berinteraksi secara fisik atau bertatap muka saja. Sejak terciptanya internet, kehidupan sosial masyarakat menjadi lebih dinamis. Manusia bisa berinteraksi satu sama lain tanpa harus bertatap muka. Meski jaman dahulu sudah pernah dilakukan melalui surat, tetapi perkembangan jaman sekarang menjadi lebih cepat dan secara instan satu orang dan yang lainnya bisa menyampaikan sesuatu secara langsung tanpa harus bertatap muka yaitu melalui layanan media sosial seperti facebook, twitter, whatsapp, BBM, dan lain-lain. Media internet telah mempermudah manusia untuk berinteraksi satu sama lain. Akan tetapi di balik berkembangnya teknologi tersebut, tentu saja akan dibarengi dengan sisi negatifnya. Ketika kita tidak bisa memanfaatkan media teknologi informasi dengan baik dan bijak, maka akan menimbulkan banyak kerugian baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Dalam berinteraksi di media sosial tentu saja kita juga harus mengedepankan etika dan tata cara bertutur seperti dalam percakapan secara langsung. Memang bahasa tulisan itu berbeda dengan bahasa verbal. Bahasa tulisan seolah-olah tidak memiliki emosi karena hanya terdiri dari susunan kata dan kalimat tanpa ada ekspresi, nada, intonasi dan penekanan dari yang menyampaikan. Akan tetapi jika kita mau mendalami lebih jauh, sebetulnya bahasa tulisan justru memiliki sisi emosi yang lebih kompleks. Dalam bahasa tulisan memang kita tidak bisa melihat ekspresi dari orang yang menyampaikan, akan tetapi jika kita hanya menelan mentah-mentah apa yang tertulis tersebut maka justru akan menimbulkan pemaknaan yang berbeda-beda dan bias. Oleh karena itu, saat kita menyampaikan sesuatu melalui tulisan hendaklah mencermati pemilihan kata, memikirkan masak-masak susunan kalimat sehingga bisa lebih mudah dipahami oleh orang lain serta tidak menimbulkan polemik karena pemahaman yang berbeda serta ketidak jelasan maksud. Pemilihan kata dalam kalimat juga bisa menunjukkan bagaimana kepribadian kita. Selain itu etika menyampaikan sesuatu juga harus kita pegang teguh. Seperti contohnya sesuatu yang bersifat lebih tertutup, misalnya permasalahan pribadi atau permasalahan-permasalahan dalam suatu komunitas yang terbatas sebaiknya disampaikan secara langsung kepada yang bersangkutan melalui jaringan pribadi (japri) bukan dengan ditulis di media sosial secara umum. Prinsip tersebut sangat penting karena jauh ke depan akan berkaitan dengan menjaga nama baik dan emosi seseorang. Juga untuk menghindarkan kita dari perbuatan fitnah.

social-media-conversation

Penyerapan informasi serta membagikan ulang informasi yang kita terima sebelumnya juga harus melalui pemikiran yang matang. Jangan pernah menelan mentah-mentah informasi hanya dari satu sumber saja. Periksa kembali informasi yang kita terima, apakah itu benar sebuah fakta atau hanya rumor. Telaah informasi yang kita terima dengan membandingkan data dari sumber yang berbeda-beda lalu kita nilai sisi faktanya. Setelah informasi kita telaah dan kita cemati, lalu kita pun harus memikirkan ulang apakah informasi tersebut pantas kita bagikan ulang ke khalayak atau cukup hanya kita simpan sendiri atau cukup kita komunikasikan dengan orang-orang yang berkaitan melalui jaringan pribadi saja. Intinya kita juga harus bisa membedakan mana yang layak kita bagikan secara umum dan mana yang hanya cukup kita bagikan di komunitas terbatas bahkan pribadi. Dalam membagikan ulang informasi, kita pun harus memegang teguh prinsip kejujuran dan kebijaksanaan. Jangan pernah menambahkan dan mengurangi isi informasi sesuka hati kita. Bagikan sesuai dengan fakta yang ada tidak lebih dan tidak kurang.

Interaksi di dunia media sosial sebenarnya tidak jauh berbeda dengan interaksi di dunia nyata. Sama-sama bertujuan menyampaikan informasi. Akan tetapi, interaksi di media sosial justru memiliki unsur yang sedikit lebih kompleks. Kita tidak bisa melihat secara langsung ekspresi, intonasi dan kondisi emosional orang yang menyampaikan dan menerima informasi. Oleh sebab itu kita harus bersikap jauh lebih bijak baik dalam menyampaikan maupun menerima informasi melalui media sosial. Karena ketika kita tidak bisa mengedepankan sikap bijaksana maka tidak menutup kemungkinan kita salah dalam menyampaikan dan berakibat kesalahan pemahaman dari orang yang menerima informasi, begitu pula sebaliknya. Kembali ke ungkapan di atas Ajining diri dumunung ana ing lathi dalam kondisi kekinian mungkin bisa berkembang menjadi Ajining diri dumunung ana ing driji atau yang berarti harga diri seseorang tergantung dari jari (driji (jawa) = jari). Karena dalam kemajuan kebudayaan dan teknologi sekarang ini kita lebih banyak bertinteraksi melalui tulisan daripada melalui ucapan. Semoga kita bisa menjadi orang yang bijaksana dalam memanfaatkan dan menggunakan teknologi.

Ditulis oleh Henry Setiawan


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: