GILA..!! SALAH SATU SISWA SAYA HILANG..!!!

24 01 2016

GILA..!! SALAH SATU SISWA SAYA HILANG..!!!
[Sepenggal kisah saat Diķlatsar Angkatan XVII Swapala Kalijaga]

Hah..?? Ada yang hilang?? Ya begitulah yang terjadi. Cerita ini benar terjadi saat kegiatan Diklatsar Swapala Kalijaga Angkatan XVII di Gunung Ungaran, Jawa Tengah pertengahan Desember 2015 lalu. Sebuah kejadian yang tentunya tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Baik bagi para instruktur, pendamping, senior, bahkan siswa dan survivor tentunya.

Pada mulanya kegiatan Diklatsar ini berjalan dengan lancar sejak hari pertama Diklat Ruangan beberapa hari sebelumnya. Seluruh rangkaian pendidikan dilaksanakan dengan baik. Para siswa belajar dengan sangat intens. Hinga pada saat turun ke lapangam pun pada mulanya juga berjalan dengan baik dan lancar. Para siswa mengikuti rangkaian kegiatan dari praktek turun tebing, survival, navigasi darat, PPGD, dll. Hari pertama kegiatan Diklatsar di lapangan di akhiri dengan pendirian camp berupa bivak dari ponco oleh para siswa dan akan di gunakan sebagai tempat istirahat pada malam hari hingga pagi tiba.

image

Awal mula bencana terjadi pada malam hari. Malam dimana kegiatan inti berupa Pendidikan Mental dan Ideologi dilaksanakan. Cuaca di Gunung Ungaran saat itu memang cukup bagus menurut kategori kami. Kami memang memiliki kategori tersendiri untuk ukuran cuaca saat kegiatan Diklatsar. Hujan ringan, kabut, angin yang cukup, sehingga menciptakan suhu yang lebih dingin dari biasanya adalah kategori cuaca bagus dan sangat sesuai untuk kegiatan Diklatsar menurut kami. Segala upaya antisipasi sudah dipersiapkan. Mulai dari tim siaga untuk pengawasan para siswa untuk menghindari kejadian buruk seperti kelelahan berlebih, hypothermia, pingsan, sakit dll. Tim siaga tersebut bertugas mengawasi seluruh aktifitas siswa dan langsung melakukan penanganan jika ada hal yang tidak diinginkan. Selain tim siaga, panitia juga sudah mempersiapkan tim medis yang berisi orang-orang yang sudah jelas berpengalaman dan menguasai tata cara penanganan medis. Terbukti ketika ada salah satu siswa “down” karena kelelahan berlebih (over exhausted), tim siaga dan tim medis langsung bergerak cepat dan bekerja untuk menanganinya. Dan segalanya segera bisa dikuasai dan diatasi. Tidak terjadi masalah serìus. Akan tetapi, masalah yang sesungguhnya justru hilangnya salah satu siswa karena tersesat. Ya tersesat. Dan kejadian tersebut hampir membuat semua orang stres.

***

Malam sudah sempurna datang, dan peserta sudah diberikan instruksi untuk beristirahat di bivak masing-masing. Para senior didampingi instruktur, pendamping dan alumni melakukan briefing untuk mempersiapkan kegiatan malam yang sejatinya akan dilaksanakan beberapa jam lagi. Setelah segala persiapan selesai, dimulailah kegiatan malam berupa Pendidikan Mental dan Ideologi. Kegiatan ini merupakan inti dari kegiatan Diklatsar karena berfungsi untuk penggemblengan mental dan penanaman ideologi keorganisasian kepada para siswa. Dan hasil yang diharapkan adalah setiap siswa tertempa mentalnya dan tertanam ideologi organisasi, serta penanaman sikap disiplin, dedikasi dan loyalitas. Awal mula kegiatan berlangsung lancar. Cuaca masih cukup “bagus” seperti yang kami harapkan. Seluruh tim yang bertugas sudah menempatkan diri di posisinya masing-masing. Dan dimulailah kegiatan Pendidikan Mental dan Ideologi. Para siswa diberangkatkan satu per satu menyusuri area kebun teh Promasan, Gunung Ungaran dengan total jarak tempuh setiap siswa sekitar 2 km melewati 5 pos yang di setiap pos ada input materi secara spesifik.

 Belum lama setelah kegiatan dimulai, hujan besar mulai turun dan cuaca semkin tidak terkendali. Setelah melakukan koordinasi singkat, kami memutuskan untuk merubah teknis kegiatan. Kami memutuskan untuk memperpendek jarak tempuh siswa dan sedikit merubah teknis perjalanan. Sebelum dimulai ulang, kami menarik mundur terlebih dahulu seluruh siswa dan senior ke lokasi yang terlindungi sambil menunggu cuaca sedikit membaik. Seluruh tim kami kumpulkan terlebih dahulu di basecamp. Setelah seluruh personil berkumpul, kami melakukan koordinasi ulang. Kami menghitung dahulu seluruh personil. Dan alagkah kagetnya, ada salah satu siswa yang tidak ada atau tidak hadir. Berdasarkan teknis penarikan mundur, jika siswa yang tidak ada (selanjutnya saya sebut survivor) berada di jalur yang benar, maka seharusnya dia ada, karena teknis penarikan mundur adalah menyusuri jalur yang telah dilalui untuk kembali ke basecamp. Menyadari ada salah satu siswa yang hilang, para senior langsung menyebar untuk mencari. Pada mulanya tanpa koordinasi mereka langsung menyusuri wilayah Promasan untuk mencari survivor. Menyadari ada yang salah, saya langsung berfikir, jika teknis pencariannya seperti ini, maka yang ada resikonya malah bisa menambah korban. Secepatnya saya mengambil alih komando. Saya langsung menarik mundur semua tim yang telah tersebar. Setelah semuanya kembali, saya lakukan koordinasi ulang untuk menghitung keseluruhan anggota dan memastikan hanya ada satu orang yang hilang. Selanjutnya saya yang memimpin pencarian. Tidak semua anggota dilibatkan dalam misi pencarian ini. Hanya beberapa orang yang memiliki kemampuan fisik yang kuat dan menguasai wilayah Promasan. Selanjutnya saya membagi tim yang ada, menentukan titik-titik lokasi pencarian, serta batas waktu untuk pencarian sesi pertama sampai kembali ke titik kumpul untuk melakukan koordinasi kembali, ada maupun tidak ada hasil. Berbekal segala informasi mengenai survivor (nama, jenis kelamin, tinggi badan,berat badan, warna pakaian dll) kami mulai menyebar untuk melakukan pencarian. Jam menunjukkan pukul 02.20 WIB saat pencarian pertama dimulai. Target waktu kami adalah jam 04.00 kembali ke titik kumpul untuk koordinasi ulang, baik ada hasil maupun tidak ada. Hampir seluruh area kebun teh Promasan sudah kami telusuri, bahkan hingga ke batas hutan. Mengandalkan segala kemungkinan, bahkan yang terburuk sekalipun yaitu survivor jatuh atau pingsan atau lebih buruk. Yang terpenting kami harus menemukan petunjuk terlebih dahulu. Hingga waktu telah menunjukkan jam 04.00 dan kami telah berkumpul di titik kumpul, ternyata dari keseluruhan tim yang melakukan pencarian tidak menemukan petunjuk apapun. Selanjutnya kami melakukan koordinasi ulang. Saya memutuskan untuk kembali ke basecamp, beristirahat sejenak mengembalikan stamina dan menyusun strategi baru untuk pencarian. Saya punya ide menggunakan peta untuk alat bantu pencarian berikutnya dan melakukan pencarian berikutnya esok hari saat kondisi sudah terang. Strategi yang kami lakukan selanjutnya adalah menggunakan alat bantu peta untuk plot wilayah yang telah ditelusuri dan menentukan titik-titik pencarian berikutnya yang belum di telusuri dan memperluas area pencarian.

Sekitar jam 04.30 kami mengumpulkan seluruh siswa lainnya dan para senior. Tujuannya adalah menelusuri lebih jauh awal mula kejadian hilangnya survivor dan mendapatkan kronologi sejelas-jelasnya. Jam 05.30 saya kembali ke basecamp dan para siswa beserta senior masih berkumpul bersama beberapa instruktur dan pendamping. Beberapa menit setelah saya kembali ke basecamp, salah seorang alumni mendatangi dan meminta saya untuk datang ke tempat kumpul untuk bertemu dengan pendamping. Saya pun mengikutinya. Dan setelah sampai di tempat kumpul, alangkah kagetnya, ternyata survivor sudah berada di sana dalam posisi duduk persis di sebelah pendamping. Sebelum memberikan pertanyaan kepada survivor, sejenak saya melihat ekspresi wajahnya. Nampak linglung dan kebingungan seolah tidak mengerti apa yang telah terjadi. Selanjutnya saya bertanya kepada pendamping, ini survivor ketemu dimana? Dan jawaban beliau juga tidak jelas dan meminta saya untuk menanyakan langsung kepada survivor. Saya pun mengajukan beberapa pertanyaan, mulai dari pertanyaan tersesat sampai sejauh mana, melewati jalur apa saja, ketemu siapa saja, bagaimana bisa kembali, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Dan jawaban dia hanya satu yaitu “tidak tahu”.

 Beberapa keanehan yang masih belum terpecahkan sampai saat ini adalah, pertama, kami telah melakukan pencarian hampir menyeluruh (secara fisik) di wilayah kebun teh promasan dan sama sekali tidak menemukan petunjuk survivor. Kedua, survivor muncul kurang dari satu jam setelah kami melakukan pencarian. Logikanya, kurang dari satu jam bukanlah jarak yang jauh mengingat area kebun teh Promasan sudah hampir seluruhnya kami telusuri dan penelusaran suara tentunya lebih luas karena kami mencari sambil memanggil nama survivor. Ketiga, pengakuan survivor sama sekali tidak mendengar suara orang memanggil namanya, mengingat jangkauan suara tentunya jauh lebih luas daripada jangkauan penglihatan pada malam hari yang sangat gelap karena kabut cukup pekat, sedangkan kami sesama tim pencari masih saling mendengar suara satu sama lain padahal jarak kami beberapa ratus meter. Keempat, setelah beberapa jam dan survivor sudah sepenuhnya sadar (rasa takut dan panik sudah hilang) saya meminta keterangan dan dia mengaku selama berjalan selalu menyusuri jalan besar. Sedangkan kami saat melakukan pencarian juga menyusuri seluruh jalan besar di wilayah kebun teh secara bersama-sama menyebar sekian banyak orang tetapi sama sekali tidak menemukan petunjuk. Serta masih ada beberapa misteri lainnya yang sengaja tidak akan saya tulis di sini.

 Terlepas dari segala keanehan yang terjadi, setidaknya kami bersyukur bahwa siswa kami yang hilang telah kembali dalam keadaan selamat, utuh dan sehat. Dan kegiatan Diklatsar bisa dilanjutkan sebagaimana mestinya hingga selesai dengan pelantikan anggota Swapala Kalijaga Angkatan XVII (Tapirus indicus). Pelajaran berharga dari kejadian ini adalah meski telah matang persiapan dengan segala antisipasi untuk semua kemungkinan resiko, kejadian buruk masih memungkinkan untuk terjadi. Untuk itu kami menyadari harus selalu melakukan pengecekan setiap saat untuk memastikan tidak ada kejadian buruk dan harus bisa berfikir cepat untuk segera mengambil tindakan terbaik untuk mengatasi permasalahan yang terjadi dan tidak memperburuk situasi seperti bertambahnya korban. Selain itu, doa untuk memohon perlindungan, keselamatan dan kelancaran harus selalu dipanjatkan kepada Yang Maha Kuasa. Semoga kejadian ini bisa dijadikan pelajaran, khususnya bagi Swapala Kalijaga supaya bisa lebih meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan pada kegiatan-kegiatan berikutnya.

Selamat datang anggota keluarga baru Swapala Kalijaga Angkatan XVII (Tapirus indicus). Lanjutkanlah apa yang telah diperjuangkan para pendahulu kalian. Swapala Kalijaga… JAYA..!!!

image


Actions

Information

3 responses

1 02 2016
Apa Yang Kamu Lakukan Jika Temanmu Tersesat??? | loopdreamer adventure

[…] evaluasi pada kejadian yang telah saya alami sebelumnya dan telah saya tulis juga pada postingan “GILA..!! SALAH SATU SISWA SAYA HILANG..!!!” dan kejadian beberapa tahun sebelumnya yang belum sempat saya ceritakan dalam bentuk tulisan. […]

26 01 2016
Chamim

buat pengalaman kedepannya itu bang, selamagt juga buat para anggota baru,,

30 01 2016
loopdreamer

Yoi masbro.. semoga lain kali tidak terjadi lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: