Apa Yang Kamu Lakukan Jika Temanmu Tersesat???

1 02 2016

How to React If Your Friend (s) Become Lost…!!!

Tulisan ini merupakan bentuk evaluasi pada kejadian yang telah saya alami sebelumnya dan telah saya tulis juga pada postingan “GILA..!! SALAH SATU SISWA SAYA HILANG..!!!” dan kejadian beberapa tahun sebelumnya yang belum sempat saya ceritakan dalam bentuk tulisan. Semoga nantinya bisa dijadikan bahan pelajaran baik bagi diri sendiri, tim, maupun orang lain.

Dalam kegiatan alam bebas, segala resiko selalu siap menghadang, salah satunya adalah tersesat. Dalam perjalanan tim atau kelompok, resiko terpencar dan “hilangnya” salah satu atau beberapa anggota tim lainnya sangat memungkinkan terjadi. Berbagai hal bisa menjadi penyebabnya, antara lain faktor alam seperti rapatnya kondisi hutan dan belantara sehingga menyulitkan pergerakan dan komunikasi antar personil, banyaknya percabangan jalan, kondisi cuaca yang kurang mendukung saat perjalanan seperti hujan lebat, kabut tebal, angin kencang, dan lain-lain. Selain faktor alam, ada pula faktor subyektif seperti kurangnya persiapan, kurangnya pengetahuan kondisi medan perjalanan, kurangnya pengetahuan tehnik hidup di alam bebas, kurangnya kerjasama tim dan pembagian tugas, kurangnya komunikasi antar personil, dan lain-lain. Lantas, apa yang harus dilakukan jika tersesat? Dalam tulisan terdahulu saya pernah menyampaikan tentang akronim S-T-O-P (Stop/Sit – Think – Observe – Plan) sebagai panduan jika kita tersesat dalam tulisan “Apa yang Kamu Lakukan Jika Kamu Tersesat???”. Dalam tulisan tersebut ada panduan sederhana tentang apa yang harus kita lakukan jika kita tersesat. Tentunya panduan tersebut bukan bersifat khusus dimana bisa selalu digunakan untuk mencari jalan keluar, tetapi panduan tersebut merupakan panduan umum dalam pengendalian diri, mengatasi rasa panik dan tentu saja untuk mengantisipasi lebih parahnya resiko seperti kecelakaan.

Gunung Ungaran

Gunung Ungaran

Jika kita sudah memiliki panduan umum yang bisa digunakan saat kita tersesat, lantas bagaimana panduan yang harus digunakan jika teman kita yang tersesat? Sebetulnya kita bisa menggunakan panduan yang sama yaitu S-T-O-P (Stop – Think – Observe – Plan), tetapi mungkin dengan sedikit penyesuaian pada penjabaran pengertian dan teknis pelaksanaannya. Berikutnya saya akan memberikan penjelasan dan contoh yang telah dilakukan.

Ketika ada salah satu atau beberapa anggota kelompok kita “hilang” atau tersesat, hal utama yang harus dipikirkan adalah jangan sampai terjadi penambahan korban dan terjadi resiko yang semakin besar. Kita tidak pernah tahu apakah anggota kita yang tersesat sudah melakukan reaksi yang tepat ketika mereka menyadari telah tersesat. Kita harus memikirkan kemungkinan terburuknya, yaitu terjadi kepanikan pada survivor dan tidak melakukan prinsip dasar jika tersesat. Maka dari itu, kita sebagai anggota tim lainnya harus bertindak cepat, tenang dan taktis supaya survivor bisa segera ditemukan kembali dalam keadaan selamat.

Prinsip S-T-O-P (Stop/Sit – Think – Observe – Plan)

S = Stop/Sit (Berhenti)

Sesuai dengan maknanya, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah berhenti jika menyadari ada anggota tim kita yang tersesat. Berhenti di sini maksudnya adalah supaya kita bisa menguasai diri dan tidak panik saat menyadari ada anggota tim kita yang tersesat. Peran ketua kelompok sangatlah penting untuk menenangkan anggota tim lainnya dan mencegah tindakan ceroboh yang bisa saja berpotensi terjadinya penambahan korban. Pada contoh kasusnya adalah ketika pada kejadian siswa saya “hilang”, beberapa anggota tim saya yang lainnya langsung menyebar melakukan pencarian tanpa adanya koordinasi terlebih dahulu. Menyadari hal itu, maka saya segera mengambil tindakan menarik mundur seluruh personil yang telah tersebar tersebut. Seluruh anggota harus berkumpul dahulu untuk menenangkan diri dan berkoordinasi sebelum melakukan pencarian. Karena jika kita ceroboh, bukannya menemukan anggota tim yang hilang, tetapi bisa saja malah terjadi hal yang lebih fatal. Itu sangat beresiko.

T = Think (Berfikir)

Ketika kita sudah bisa menenangkan diri, mengumpulkan seluruh anggota tim dan bisa mengendalikan situasi, barulah kita bisa berfikir secara jernih tentang apa yang telah terjadi. Kelanjutan dari kisah siswa saya yang hilang, saya berusaha berfikir tentang awal mula kejadian hingga penyebab survivor tersesat. Saya berusaha mencari titik penyebab yang menjadikan salah satu personil bisa tersesat. Mengulang kembali kronologi perjalanan dan pada akhirnya bisa menyimpulkan penyebabnya dan kemungkinan terbesar arah tersesatnya survivor tersebut. Dalam keadaan diri yang tenang dan tidak panik, segala informasi bisa dengan cepat kita kumpulkan. Karena jika kita dalam keadaan panik, kita tidak akan pernah bisa berfikir dengan jernih. Dan yang selalu terjadi adalah pengambilan keputusan yang salah.

O = Observe (Observasi)

Saat kita telah menemukan beberapa titik terang tentang hilangnya anggota tim, seperti kemungkinan penyebab, kemungkinan arah tersesat, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya, maka saatnya melakukan observasi lebih dalam sebelum membuat rencana (plan). Saat kejadian yang lalu, ketika saya sudah mendapatkan informasi awal tentang hilangnya salah satu anggota tim, saya lanjut melakukan observasi. Segala informasi dan detail mulai saya kumpulkan, bahkan hingga informasi-informasi yang dinilai tidak terlalu penting tetap harus di data. Beberapa di antaranya adalah menggali lebih dalam kronologi hilangnya survivor melalui saksi-saksi yang terakhir kali melihat survivor. Mendapatkan informasi waktu kemungkinan survivor hilang dan lain-lain. Sedangkan informasi-informasi pendukung adalah nama lengkap, nama panggilan/nama rimba, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, jenis pakaian, warna pakaian, warna sepatu, alamat, nama orang tua, kapan survivor terakhir makan, barang apa saja yang dibawa, kepribadian (pendiam/periang, punya permasalahan pribadi atau tidak), dan lain-lain). Karena sekecil apapun informasi bisa dijadikan petunjuk saat pencarian nanti. Selain melakukan observasi pada survivor, saya juga melakukan observasi pada tim dan peralatan. Mendata seluruh perlengkapan yang bisa digunakan untuk mendukung pencarian, seperti lampu senter, peralatan navigasi (peta, kompas, protaktor, dll), dan perlengkapan-perlengkapan lainnya. Sedangkan pendataan personil berguna untuk mengetahui siapa saja yang menguasai wilayah sekitar hilangnya survivor, siapa saja yang saat itu dalam kondisi fit dan kuat dan siap melakukan pencarian malam dan menentukan pembagian tugas wilayah dan waktu pencarian, siapa yang standby di basecamp, serta siapa yang akan turun menemui petugas berwenang untuk melaporkan kejadian tersebut jika pencarian tidak membuahkan hasil.

P = Plan (Membuat Rencana)

Setelah kita selesai mengumpulkan segala data melalui observasi, barulah kita membuat suatu rencana. Rencana yang dibuat dan akan dilakukan nantinya tentunya harus sesuai dengan hasil observasi sebelumnya. Apakah akan melakukan pencarian sendiri terlebih dahulu dengan asumsi memiliki cukup peralatan, cukup bahan makanan, dan kondisi fisik yang baik, atau tidak melakukan pencarian karena minimnya perlengkapan pendukung dan kondisi fisik yang kurang baik dan langsung melapor ke petugas berwenang saja. Keputusan menentukan melakukan pencarian atau tidak sifatnya sangat vital, karena jika kita salah dalam pengambilan keputusan, maka resikonya adalah bisa terjadi penambahan korban. Sekali lagi peran ketua kelompok sangatlah penting karena dialah pengambil keputusan. Dan anggota kelompok lainnya harus siap menerima tugas dan instruksi selanjutnya. Kembali ke cerita siswa yang hilang, setelah semua informasi, peralatan dan tim siap, saya mulai membuat rencana. Rencana pertama adalah melakukan pencarian malam itu juga dengan cara menyebar personil yang menguasai wilayah kemungkinan survivor tersesat. Membagi tim menjadi beberapa tim kecil dengan anggota dua orang masing-masing tim dan bertugas menyusuri wilayah-wilayah tertentu. Tenggat waktu untuk pencarian pertama adalah 1,5 jam. Ada maupun tidak ada hasil seluruh tim pencari harus kembali ke titik kumpul untuk melakukan koordinasi ulang. Sedangkan rencana yang kedua adalah melakukan pencarian pada pagi harinya, jika saat pencarian malam tidak membuahkan hasil, dengan alat bantu peta untuk plotting wilayah-wilayah yang telah di telusuri dan belum di telusuri serta memperluas area pencarian. Dan rencana yang ketiga adalah jika hingga tengah hari belum juga membuahkan hasil, maka kami akan melapor pada petugas berwenang untuk meminta bantuan pencarian survivor. Dan pada akhirnya pada pagi harinya survivor telah kembali dengan selamat tanpa kurang satu apapun.

Dalam kondisi seperti apapun, ketenangan dalam berfikir dan bertindak merupakan kunci utama untuk menyelesaikan masalah. Yang terpenting komunikasi dan koordinasi antar personil dalam satu kelompok harus berjalan dengan baik, sehingga hal-hal buruk bisa dihindari. Jika segala antisipasi sudah kita lakukan, tetapi hal buruk masih terjadi, maka kita harus tetap memegang teguh keyakinan segalanya bisa teratasi dengan perencanaan yang baik. Dan tentunya doa untuk memohon perlindungan dan petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa harus selalu kita panjatkan. Apapun yang terjadi saat kita berada di alam bebas, seharusnya bisa dijadikan pelajaran supaya kita bisa berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Sekian.

Henry BS

CAMERA

Navigasi Darat


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: