MANAJEMEN PERJALANAN PENDAKIAN

13 02 2016

(Seni Mempersiapkan Perjalanan Pendakian)

Sebelum membahas tentang Manajemen Perjalanan Pendakian, sebaiknya kita sedikit melakukan review terlebih dahulu tentang apa itu manajeman. Tidak sulit memang menemukan penjelasan tentang manajemen di dunia maya. Sudah sangat bertebaran tulisan-tulisan yang membahas tentang apa itu manajemen. Sedikit yang saya kutip adalah berikut ini. Pengertian manajemen menurut George.R.Terry yang mengatakan bahwa pengertian manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang ke arah tujuan-tujuan organisasional maksud yang nyata. Pengertian manajemen menurut Encylopedia of the Social Science, mengatakan bahwa pengertian manajemen adalah suatu proses yang pelaksanaan tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi. Pengertian manajemen menurut Mary Parker Follet, mengatakan bahwa pengertian manajemen adalah sebuah seni atau management is an art). Setiap pekerjaan mampu diselesaikan oleh orang lain. Pengertian manajemen menurut James A.F Stoner, yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, dan penggunaan sumber daya organisasi yang lain agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Pengertian manajemen menurut Lawrence A. Appley adalah seni pencapaian tujuan yang dilakukan melalui usaha orang lain. Pengertian manajemen Wilson Bangun adalah rangkaian aktivitas-aktivitas yang dikerjakan oleh anggota-anggota organisasi untuk mencapai tujuannya. Pengertian manajemen menurut Koontz, mengatakan bahwa pengertian manajemen adalah seni yang paling produktif selalu didasarkan pada pemahaman terhadap ilmu yang mendasarinya. (Sumber : Artikelsiana)

Fungsi Manajemen Perjalanan Pendakian

Bisa kita simpulkan secara sederhana bahwa Manajemen adalah sebuah pengaturan proses untuk mencapai suatu tujuan tertentu, baik dilakukan sendiri maupun melibatkan orang lain (Organisasi/Kerjasama). Jika proses yang hendak kita lakukan adalah perjalanan pendakian gunung, maka Ilmu Manajemen yang kita gunakan bisa kita sebut dengan Manajemen Perjalanan Pendakian. Sedangkan apa tujuan yang hendak dicapai? Dalam hal ini setiap pelaku pendakian bisa memiliki tujuan yang berbeda. Bisa sekedar untuk sampai ke puncak, bisa sekedar untuk menikmati perjalanan semampunya (tidak harus puncak), bisa juga dengan tambahan tujuan skunder seperti hunting foto landscape, penelitian, dan lain-lain.

management-perjalanan-pldc-3-728

Read the rest of this entry »

Advertisements




Ucapanmu Kepribadianmu

13 06 2015

Ajining raga dumunung ana ing busana, Ajining diri dumunung ana ing lathi

Ungkapan di atas merupakan ungkapan dalam bahasa jawa yang sudah sangat familiar di jawa. Sebuah ungkapan sederhana namun memiliki makna filosofis yang sangat dalam dan tidak pernah lekang oleh waktu atau selalu sesuai dengan kondisi jaman apapun. Secara harafiah, ungkapan di atas memiliki arti : Nilai/harga dari fisik/raga tergantung dari busana/pakaian, Nilai/harga dari kepribadian tergantung pada ucapan. Harga diri seseorang ditunjukkan dari apa yang ditampilkan dan diucapkan. Dalam kehidupan sosial masyarakat, terutama di Indonesia, kedua unsur tersebut (penampilan dan ucapan) memiliki pengaruh yang kuat terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Misalnya dalam hal penampilan, sudah mengakar dan menjadi budaya di Indonesia bahwa penampilan akan menunjukkan kepribadian seseorang. Meski hal tersebut tidak selalu akan berlaku pada masa sekarang.
speak

Read the rest of this entry »





Mendaki Gunung Adalah Laku Tirakat

27 03 2015

Mendaki Gunung

“Lakune ahli tarikat, atapa pucuking wukir, mungguh Hyang Suksma parenga, amati sajroning urip, angenytaken ragi, suwung tan ana kadulu, mulane amartapa, mrih punjul samining janmi, wus mangkana kang kandheg aneng tarekat.”

Terjemahan :

Laku ahli tirakat adalah bertapa di puncak gunung, sekiranya Tuhan meridhoi mati di dalam hidup, menghanyutkan diri, kosong tidak ada yang terlihat, oleh karena itu bertapa agar melebihi sesamayan, demikianlah barang siapa yang terhenti pada tarikat.

Kutipan di atas merupakan kutipan dari salah satu karya sastra jawa kuno yaitu Suluk Sujinah yang mencitrakan bahwa laku tirakat (bertapa) di puncak gunung memang sudah dilakukan sejak jaman dulu oleh para pendahulu kita terutama di tanah jawa. Laku tirakat di tempat sepi seperti belantara, atau pun puncak gunung dilakukan bukan sekedar untuk meningkatan kesaktian kanuragan saja, tetapi lebih dalam untuk menemukan “jati diri”, menemukan potensi yang ada di dalam diri supaya bisa digunakan untuk kepentingan yang lebih luas. Berdasarkan sejarah mencatat bahwa para raja jawa sebelum memangku jabatan sebagai raja terlebih dahulu ditempa jiwa dan raganya, salah satunya dalam bentuk laku tirakat bertapa di tempat-tempat sepi, gunung, dan hutan. Hal itu dilakukan untuk menemukan dan meningkatkan potensi dalam dirinya terutama dalam hal jiwa kepemimpinan yang mencakup pemerintahan, memakmurkan rakyat yang dipimpinnya, mempertahankan kedaulatan, menjaga perdamaian, dan lain-lain. Para pandhita pun melakukan hal yang sama, mereka melakukan laku tirakat untuk menemukan kebijaksanaan-kebijaksanaan, ilmu-ilmu kehidupan, yang ajarannya masih tetap digunakan hingga saat ini. Jadi kesimpulannya kegiatan mendaki gunung, merambah belantara memang sudah dilakukan para pendahulu kita di jaman kuno dengan tujuan menempa diri, mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Alam, serta untuk meningkatkan kemampuan diri yang pada perwujudannya bisa memberikan manfaat kepada khalayak.

Read the rest of this entry »





Gunung Semeru

18 01 2010

Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.

Posisi gunung ini terletak diantara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06′ LS dan 120°55′ BT.

semeru

Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan Candipuro di Lumajang.

Read the rest of this entry »





Sanitasi Sebagai Tanggung Jawab Bersama

1 08 2009

p-05-sanitasiPersoalan penyediaan sanitasi yang baik bagi masyarakat sudah tidak
bisa ditunda. Sebab masalah sanitasi berkolerasi positif dengan
timbulnya berbagai penyakit semacam diare, ispa (infeksi saliran
pernafasan atas), demam berdarah, tuberculosis. Angka kematian dari
penyakit ini sungguh mencengangkan.
Di dunia, minimnya akses air bersih serta buruknya sanitasi dan
perilaku tidak sehat berkontribusi terhadap kematian 1,8 juta orang
per tahun karena diare. Sebanyak 90 persen angka kematian akibat diare
terjadi pada anak dibawah umur lima tahun (balita).
Untuk Indonesia, menurut Survei Demografi tahun 2003, sekitar 19
persen atau 100.000 anak balita meninggal karena diare.
Pada tahun 2006, tercatat 423 per 1000 anak balita terserang diare satu hingga
dua kali dalam setahun. Padahal, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO),
94 persen kasus diare dapat dicegah dengan meningkatkan akses air
bersih, sanitasi, perilaku higienis, dan pengolahan air minum skala
rumah tangga.
Hampir 80 persen rumah tangga di perkotaan menggunakan tangki septik Read the rest of this entry »