DIKSAR BUKAN PEMBUNUH!

9 02 2017

Bagaimana Melakukan Indoktrinasi Dengan Meninggalkan Unsur Kekerasan

Penting! Disarankan membaca dulu tulisan : DIKLATSAR… PENTINGKAH? Sebelum membaca artikel di bawah ini.

                Belum lama ini santer tersebar berita heboh mengenai diksar mapala di jogja yang menelan korban jiwa siswanya. Tidak tanggung-tanggung, 3 siswa sekaligus menjadi korban meninggal dunia. Diduga penyebabnya adalah tindak kekerasan yang dilakukan oleh para senior atau instrukturnya. berdasarkan berita, kekerasan yang dilakukan bukan sekedar kekerasan fisik tangan kosong semata, tetapi menggunakan alat berupa rotan dan kayu. melihat fakta seperti itu, kita menjadi berfikir keras, sesungguhnya ini kegiatan pendidikan atau pembantaian? Bahkan pendidikan militer yang mencetak para perwira penjaga kedaulatan bangsa pun tidak sesadis ini. Akibat dari kejadian tersebut, para panitia dan senior yang menjalankan kegiatan diksar serta melakukan kekerasan tersebut harus menjalani proses hukum dan harus menerima ganjarannya di skors bahkan dikeluarkan dari kampus tempat mereka menuntut ilmu. Bahkan rektor kampus tersebut pun harus mengundurkan diri dari jabatannya karena merasa bertanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa itu. Melihat imbas yang harus terjadi akibat kejadian itu, tidak bisa dipungkiri bahwa kegiatan diksar atau diklatsar atau dikdas atau apapun istilahnya bukanlah suatu kegiatan yang sepele. Jika dilakukan dengan benar, maka hasilnya pun akan luar biasa positif, tetapi jika dilakukan dengan tidak benar seperti pada kejadian di atas, maka imbasnya pun akan luar biasa merugikan. Dan yang lebih parah lagi, lagi-lagi mapala atau organisasi alam bebas yang sudah biasa melakukan kegiatan pendidikan keras pun harus kembali menjadi sorotan tajam masyarakat dan bahkan akan terancam eksistensinya. Diberbagai penjuru nusantara, para penggiat alam bebas pun banyak melakukan kampanye dukungan terhadap kelompok kegiatan alam bebas dengan hashtag #MapalaBukanPembunuh yang menyatakan bahwasannya mapala sesungguhnya tidak kejam, kejadian di mapala jogja tersebut hanyalah satu kelalaian yang harus diproses sesuai hukum yang berlaku, sedangkan secara keseluruhan mapala di Indonesia harus diselamatkan namanya karena tidak semua mapala melakukan tindak kekerasan pada sistem pendidikannya. Bahkan di beberapa kota dilakukan aksi pernyataan sikap sebagai bentuk dukungan terhadap mapala di Indonesia. Lantas adakah solusi untuk pendidikan dasar mapala atau kelompok kegiatan alam bebas yang tetap menjaga unsur pendidikan keras dan tegas tetapi tanpa adanya unsur kekerasan? Tentu saja ada dan seharusnya bisa dilakukan jika sistemnya dibenahi dan tetap mengedepankan prosedur keselamatan.

Acara Pernyataan Sikap dan Doa Bersama Forum Komunikasi Keluarga Besar Pecinta Alam Bandung Raya

Acara Pernyataan Sikap dan Doa Bersama Forum Komunikasi Keluarga Besar Pecinta Alam Bandung Raya

Foto Oleh Muchlis Aja

Read the rest of this entry »

Advertisements




DIKLATSAR… PENTINGKAH?

17 02 2016

Kita memang sudah terbiasa mendengar kata “diklatsar”. Namun hingga saat ini pengetahuan tentang apa itu diklatsar masih banyak yang belum benar-benar memahami. Masih banyak kalangan yang menganggap bahwa diklatsar merupakan sebuah kegiatan yang sangat menyeramkan dan membahayakan. Khususnya di kalangan penggiat kegiatan alam bebas. Hal itu tidak bisa dipungkiri karena memang faktanya pernah terjadi hal “buruk” saat diklatsar hingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Contohnya pernah terjadi siswa diklatsar salah satu mapala di Semarang meninggal dunia saat kegiatan diklatsar di Gunung Ungaran. Atau sebuah Sispala di Jakarta juga pernah terjadi salah satu peserta diklatsar meninggal dunia karena tindak kekerasan seniornya. Dan masih ada lagi kasus-kasus lainnya. Akan tetapi, masih banyak pihak yang menganggap bahwa diklatsar adalah sebuah kegiatan yang sangat penting, sangat bermanfaat bagi generasi muda pada khususnya. Lantas dimana nilai penting dan manfaatnya? Berikutnya saya akan mencoba mengulas tentang diklatsar. Penyebab terjadinya korban, cara antisipasi, serta tentu saja nilai penting dan manfaat diklatsar.

diklat

Kegiatan Long March Saat Diklatsar

Read the rest of this entry »





MANAJEMEN PERJALANAN PENDAKIAN

13 02 2016

(Seni Mempersiapkan Perjalanan Pendakian)

Sebelum membahas tentang Manajemen Perjalanan Pendakian, sebaiknya kita sedikit melakukan review terlebih dahulu tentang apa itu manajeman. Tidak sulit memang menemukan penjelasan tentang manajemen di dunia maya. Sudah sangat bertebaran tulisan-tulisan yang membahas tentang apa itu manajemen. Sedikit yang saya kutip adalah berikut ini. Pengertian manajemen menurut George.R.Terry yang mengatakan bahwa pengertian manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang ke arah tujuan-tujuan organisasional maksud yang nyata. Pengertian manajemen menurut Encylopedia of the Social Science, mengatakan bahwa pengertian manajemen adalah suatu proses yang pelaksanaan tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi. Pengertian manajemen menurut Mary Parker Follet, mengatakan bahwa pengertian manajemen adalah sebuah seni atau management is an art). Setiap pekerjaan mampu diselesaikan oleh orang lain. Pengertian manajemen menurut James A.F Stoner, yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, dan penggunaan sumber daya organisasi yang lain agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Pengertian manajemen menurut Lawrence A. Appley adalah seni pencapaian tujuan yang dilakukan melalui usaha orang lain. Pengertian manajemen Wilson Bangun adalah rangkaian aktivitas-aktivitas yang dikerjakan oleh anggota-anggota organisasi untuk mencapai tujuannya. Pengertian manajemen menurut Koontz, mengatakan bahwa pengertian manajemen adalah seni yang paling produktif selalu didasarkan pada pemahaman terhadap ilmu yang mendasarinya. (Sumber : Artikelsiana)

Fungsi Manajemen Perjalanan Pendakian

Bisa kita simpulkan secara sederhana bahwa Manajemen adalah sebuah pengaturan proses untuk mencapai suatu tujuan tertentu, baik dilakukan sendiri maupun melibatkan orang lain (Organisasi/Kerjasama). Jika proses yang hendak kita lakukan adalah perjalanan pendakian gunung, maka Ilmu Manajemen yang kita gunakan bisa kita sebut dengan Manajemen Perjalanan Pendakian. Sedangkan apa tujuan yang hendak dicapai? Dalam hal ini setiap pelaku pendakian bisa memiliki tujuan yang berbeda. Bisa sekedar untuk sampai ke puncak, bisa sekedar untuk menikmati perjalanan semampunya (tidak harus puncak), bisa juga dengan tambahan tujuan skunder seperti hunting foto landscape, penelitian, dan lain-lain.

management-perjalanan-pldc-3-728

Read the rest of this entry »





Apa Yang Kamu Lakukan Jika Temanmu Tersesat???

1 02 2016

How to React If Your Friend (s) Become Lost…!!!

Tulisan ini merupakan bentuk evaluasi pada kejadian yang telah saya alami sebelumnya dan telah saya tulis juga pada postingan “GILA..!! SALAH SATU SISWA SAYA HILANG..!!!” dan kejadian beberapa tahun sebelumnya yang belum sempat saya ceritakan dalam bentuk tulisan. Semoga nantinya bisa dijadikan bahan pelajaran baik bagi diri sendiri, tim, maupun orang lain.

Dalam kegiatan alam bebas, segala resiko selalu siap menghadang, salah satunya adalah tersesat. Dalam perjalanan tim atau kelompok, resiko terpencar dan “hilangnya” salah satu atau beberapa anggota tim lainnya sangat memungkinkan terjadi. Berbagai hal bisa menjadi penyebabnya, antara lain faktor alam seperti rapatnya kondisi hutan dan belantara sehingga menyulitkan pergerakan dan komunikasi antar personil, banyaknya percabangan jalan, kondisi cuaca yang kurang mendukung saat perjalanan seperti hujan lebat, kabut tebal, angin kencang, dan lain-lain. Selain faktor alam, ada pula faktor subyektif seperti kurangnya persiapan, kurangnya pengetahuan kondisi medan perjalanan, kurangnya pengetahuan tehnik hidup di alam bebas, kurangnya kerjasama tim dan pembagian tugas, kurangnya komunikasi antar personil, dan lain-lain. Lantas, apa yang harus dilakukan jika tersesat? Dalam tulisan terdahulu saya pernah menyampaikan tentang akronim S-T-O-P (Stop/Sit – Think – Observe – Plan) sebagai panduan jika kita tersesat dalam tulisan “Apa yang Kamu Lakukan Jika Kamu Tersesat???”. Dalam tulisan tersebut ada panduan sederhana tentang apa yang harus kita lakukan jika kita tersesat. Tentunya panduan tersebut bukan bersifat khusus dimana bisa selalu digunakan untuk mencari jalan keluar, tetapi panduan tersebut merupakan panduan umum dalam pengendalian diri, mengatasi rasa panik dan tentu saja untuk mengantisipasi lebih parahnya resiko seperti kecelakaan.

Gunung Ungaran

Gunung Ungaran

Read the rest of this entry »





Mendaki Gunung Adalah Laku Tirakat

27 03 2015

Mendaki Gunung

“Lakune ahli tarikat, atapa pucuking wukir, mungguh Hyang Suksma parenga, amati sajroning urip, angenytaken ragi, suwung tan ana kadulu, mulane amartapa, mrih punjul samining janmi, wus mangkana kang kandheg aneng tarekat.”

Terjemahan :

Laku ahli tirakat adalah bertapa di puncak gunung, sekiranya Tuhan meridhoi mati di dalam hidup, menghanyutkan diri, kosong tidak ada yang terlihat, oleh karena itu bertapa agar melebihi sesamayan, demikianlah barang siapa yang terhenti pada tarikat.

Kutipan di atas merupakan kutipan dari salah satu karya sastra jawa kuno yaitu Suluk Sujinah yang mencitrakan bahwa laku tirakat (bertapa) di puncak gunung memang sudah dilakukan sejak jaman dulu oleh para pendahulu kita terutama di tanah jawa. Laku tirakat di tempat sepi seperti belantara, atau pun puncak gunung dilakukan bukan sekedar untuk meningkatan kesaktian kanuragan saja, tetapi lebih dalam untuk menemukan “jati diri”, menemukan potensi yang ada di dalam diri supaya bisa digunakan untuk kepentingan yang lebih luas. Berdasarkan sejarah mencatat bahwa para raja jawa sebelum memangku jabatan sebagai raja terlebih dahulu ditempa jiwa dan raganya, salah satunya dalam bentuk laku tirakat bertapa di tempat-tempat sepi, gunung, dan hutan. Hal itu dilakukan untuk menemukan dan meningkatkan potensi dalam dirinya terutama dalam hal jiwa kepemimpinan yang mencakup pemerintahan, memakmurkan rakyat yang dipimpinnya, mempertahankan kedaulatan, menjaga perdamaian, dan lain-lain. Para pandhita pun melakukan hal yang sama, mereka melakukan laku tirakat untuk menemukan kebijaksanaan-kebijaksanaan, ilmu-ilmu kehidupan, yang ajarannya masih tetap digunakan hingga saat ini. Jadi kesimpulannya kegiatan mendaki gunung, merambah belantara memang sudah dilakukan para pendahulu kita di jaman kuno dengan tujuan menempa diri, mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Alam, serta untuk meningkatkan kemampuan diri yang pada perwujudannya bisa memberikan manfaat kepada khalayak.

Read the rest of this entry »





Brown Canyon ; Sisa Keindahan di Balik Kengerian Alat Berat

4 02 2015

brown canyon

Mendengar kata “Brown Canyon” seketika kita akan teringat sebuah tempat di Amerika Serikat yang sangat terkenal di seluruh dunia yaitu Grand Canyon. Grand Canyon adalah sebuah ngarai besar yang terdiri dari bukit-bukit tebing terjal yang terukir secara alami oleh sungai Colorado selama jutaan tahun. Grand Canyon berada di Negara bagian Arizona, Amerika Serikat, merupakan satu dari Tujuh Keajaiban Dunia dan sebagian besar berada di Taman Nasional Grand Canyon, salah satu taman nasional pertama di Amerika Serikat. Lantas apakah Brown Canyon itu? Brown Canyon merupakan sebuah lokasi di pinggiran Kabupaten Demak, berbatasan langsung dengan Kota Semarang, di koordinat 7°03’24.3″LS 110°29’14.9″BT, dimana lokasi ini memiliki struktur yang mirip dengan Grand Canyon di Amerika. Brown Canyon memiliki beberapa tebing yang mirip dengan ngarai yang berada di Grand Canyon, Amerika. Brown Canyon memiliki pesona landscape yang sangat indah. Tebing-tebing ngarai di tempat ini didominasi oleh tanah batu padas yang  memiliki keunikan dan bentuk yang unik. Lokasi ini sekarang menjadi salah satu surga bagi penggemar fotografi. Hampir setiap hari orang mengunjungi lokasi ini, baik sekedar untuk menikmati pemandangan, bercengkrama, maupun untuk hunting foto.

Brown Canyon

Read the rest of this entry »





Pendakian Gunung Slamet 2008 ; Satu Gunung Dua Pendakian

26 11 2014

slamet 1
Meski perjalanan ini sudah cukup lama, tetapi kisah di balik perjalanan ini masih sangat melekat dalam ingatan saya. Perjalanan yang saya lakukan sekitar 6 tahun yang lalu di Gunung Slamet, Jawa Tengah bersama 9 orang kawan lainnya dengan mengendarai motor dari kota tempat tinggal saya yaitu Demak, Jawa Tengah. Kisah unik dari perjalanan ini bukan karena sensasi mengendarai motor jarak jauh atau sensasi pendakian Gunung Slamet semata, tetapi ada bagian menarik dan tentu saja tidak akan pernah terlupakan, yaitu kami tersesat di Gunung Slamet dan harus mengakhiri pendakian dengan gagal mencapai puncak serta memulai lagi pendakian melalui jalur yang lain dan akhirnya bisa mencapai puncak. Sungguh luar biasa lelah dan tantangannya, baik tantangan secara fisik, perbekalan, manajemen perjalanan, hingga koordinasi tim. Berikut kisah lengkapnya.

Perencanaan
Ide pendakian ke Gunung Slamet berawal dari obrolan santai saya bersama beberapa teman di tempat nongkrong biasa. Kami mencari ide untuk refreshing dan mengisi waktu luang seusai perayaan Hari Besar Idul Fitri tahun 2008. Awal mula ada beberapa ide lokasi untuk pendakian, seperti Merapi, Sumbing, Lawu, dan Slamet. Akhirnya kami memutuskan untuk mendaki ke Gunung Slamet karena sebagian besar kawan belum pernah mendaki kesana (FYI : saya sudah pernah mendaki Gunung Slamet sebelumnya, yaitu 5 tahun sebelumnya dan belum pernah kesana lagi). Setelah kami semua sepakat untuk lokasi pendakian, kami selanjutnya membentuk tim dan membagi tugas awal untuk persiapan. Saya dipilih menjadi leader oleh tim. Dengan alasan saya sudah pernah ke Slamet.

Read the rest of this entry »