Mendaki Gunung Adalah Laku Tirakat

27 03 2015

Mendaki Gunung

“Lakune ahli tarikat, atapa pucuking wukir, mungguh Hyang Suksma parenga, amati sajroning urip, angenytaken ragi, suwung tan ana kadulu, mulane amartapa, mrih punjul samining janmi, wus mangkana kang kandheg aneng tarekat.”

Terjemahan :

Laku ahli tirakat adalah bertapa di puncak gunung, sekiranya Tuhan meridhoi mati di dalam hidup, menghanyutkan diri, kosong tidak ada yang terlihat, oleh karena itu bertapa agar melebihi sesamayan, demikianlah barang siapa yang terhenti pada tarikat.

Kutipan di atas merupakan kutipan dari salah satu karya sastra jawa kuno yaitu Suluk Sujinah yang mencitrakan bahwa laku tirakat (bertapa) di puncak gunung memang sudah dilakukan sejak jaman dulu oleh para pendahulu kita terutama di tanah jawa. Laku tirakat di tempat sepi seperti belantara, atau pun puncak gunung dilakukan bukan sekedar untuk meningkatan kesaktian kanuragan saja, tetapi lebih dalam untuk menemukan “jati diri”, menemukan potensi yang ada di dalam diri supaya bisa digunakan untuk kepentingan yang lebih luas. Berdasarkan sejarah mencatat bahwa para raja jawa sebelum memangku jabatan sebagai raja terlebih dahulu ditempa jiwa dan raganya, salah satunya dalam bentuk laku tirakat bertapa di tempat-tempat sepi, gunung, dan hutan. Hal itu dilakukan untuk menemukan dan meningkatkan potensi dalam dirinya terutama dalam hal jiwa kepemimpinan yang mencakup pemerintahan, memakmurkan rakyat yang dipimpinnya, mempertahankan kedaulatan, menjaga perdamaian, dan lain-lain. Para pandhita pun melakukan hal yang sama, mereka melakukan laku tirakat untuk menemukan kebijaksanaan-kebijaksanaan, ilmu-ilmu kehidupan, yang ajarannya masih tetap digunakan hingga saat ini. Jadi kesimpulannya kegiatan mendaki gunung, merambah belantara memang sudah dilakukan para pendahulu kita di jaman kuno dengan tujuan menempa diri, mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Alam, serta untuk meningkatkan kemampuan diri yang pada perwujudannya bisa memberikan manfaat kepada khalayak.

Read the rest of this entry »





Mendaki Secara Tim Atau Solo?

6 02 2015
Pendakian Tim

Pendakian Tim

Kegiatan pendakian gunung sejatinya adalah sebuah kegiatan tim atau bersama. Hal itu dikarenakan kita harus memperhitungkan segala aspek resiko yang mengikuti kegiatan pendakian gunung ini. Akan tetapi tidak sedikit pula yang melakukan kegiatan pendakian gunung ini secara individu atau solo. Dari kedua tipe pendakian gunung tersebut (tim dan solo) masing-masing memiliki keuntungan dan kerugiannya. Masing-masing memiliki sensasi tersendiri dan masing-masing memiliki tujuan yang sama, selain puncak gunung, adalah tujuan melatih dan mengasah kemampuan diri serta menempa fisik dan mental serta kepribadian. Berikut akan saya ulas secara singkat mengenai dua tipe pendakian tersebut.

Read the rest of this entry »





“PULANG” KE 2050 MDPL

23 01 2015

Gunung Ungaran

Gunung  Ungaran mungkin tidak terlalu populer di kalangan penggiat alam bebas pada umumnya. Hal ini mungkin dikarenakan gunung ini memiliki ketinggian yang kurang dari 3000 mdpl. Gunung ungaran terletak di selatan Kota semarang pada koordinat 7,18°LS 110,33°BT meliputi beberapa wilayah yaitu Kab. Semarang, Kendal dan Ambarawa. Gunung ungaran memiliki ketinggian 2050 mdpl.

Gunung Ungaran termasuk gunung berapi berapi tipe strato. Gunung ini memiliki tiga puncak: Gendol, Botak, dan Ungaran. Puncak tertinggi adalah Ungaran.

Dari puncak gunung ini, jika memandang ke utara akan terlihat Laut Jawa sedangkan jika membalikkan badan, akan terlihat jajaran (dari kiri ke kanan) Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Kendalisodo dengan Rawa Peningnya, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Perahu.

Tidak ada catatan yang jelas mengenai aktivitas gunung ini. Namun, diperkirakan gunung ini pernah meletus pada zaman kerajaan dahulu, dengan letusan yang amat dahsyat sehingga menghancurkan dua pertiga bagian puncak dari semula sehingga yang dapat dilihat sekarang adalah hanya sepertiga bagian dari gunung Ungaran berapi purba. Diperkirakan, gunung ini sedang mengalami masa tidur panjang dan sewaktu-waktu dapat aktif kembali.

Gunung Ungaran mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Di lerengnya terdapat situs arkeologi berupa Candi Gedongsongo (Bahasa Jawa: gedong = gedung, songo = sembilan). Terdapat pula beberapa air terjun (curug), di antaranya Curug Semirang dan Curug Lawe. Juga terdapat gua, yang terkenal dengan nama Gua Jepang. Gua ini terletak 200 meter sebelum puncak, tepatnya di sekitar perkampungan Promasan (perkampungan para pemetik teh). Di sini terdapat pula reruntuhan bekas pemandian kuna. (Wikipedia)

image

Merbabu mengintip dari balik awan

Read the rest of this entry »